Kamis, 19 September 2013



 

Pendekatan 4P Dalam Pengembangan Kreativitas


Setiap orang pada dasarnya memiliki bakat kreatif dan kemampuan untuk mengungkapkan dirinya secara kreatif,meskipun dalam proses pengungkapannnya berbeda-beda,tetapi yang penting ialah bahwa bakat tersebut  perlu dikembangkan dan ditingkatkan.
Kreativitas itu bermakna dalam hidup manusia dan ada beberapa alasan mengapa kreativitas perlu dipupuk sejak dini menurut  Prof.Dr.Utami Munandar dalam buku pengembangan kreativitas anak berbakat yaitu yang pertama, karena dengan bekreasi orang dapat mewujudkan dirinya dan menurut Maslow,1967 aktualisasi diri merupakan kebutuhan pokok pada tingkat tertinggi dalm hidup manusia ,yang kedua,kreativitas atau berfikir kreatif sebagai kemampuan untuk melihat bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah yang merupakan bentuk pemikiran yang sampai saat ini masih kurang mendapat perhatian dalam pendidikan (Guilford,1967),yang ketiga,bersibuk diri secara kreatif tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri dan bagi lingkungan tetapi juga memberikan kepuasan  kepada individu dan yang keempat,kreativitaslah yang memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya.
Sehubungan dengan pengembangan kreativitas,kita juga perlu meninjau 4 aspek dari kreativitas ,yaitu pribadi,pendorong,proses dan produk yang juga mendasari terbentuknya suatu produk kreativitas yang saya buat sehubungan dnegan tugas mata kuliah kreativitas.
Aspek yang pertama ialah Pribadi,dimana kreativitas adalah ungkapan dari keunikan individu dalam interaksi dengan lingkungannya,ungkapan kreatif itu sendiri mencerminkan orisinalitas dari indvidu tersebut dan dari ungkapan pribadi yang unik inilah dapat diharapkan timbul ide–ide baru dan produk–produk yang inovatif. Ada banyak teori yang berusaha menjelaskan pembentukan kepribadian kreatif,tetapi disini akan dijelaskan  dari 2 teori saja yaitu teori psikoanalisa dan teori humanistik.
a.       Teori Psikoanalisa
Teori – teori psikoanalisa melihat kreativitas sebagai hasil mengatasi suatu maslah,yang biasanya mulai di masa anak.
1.      Teori Sigmud Freud  ( 1856 – 1939) mengatakan bahwa ciri kepribadian yang menetap pada lima tahun pertama dari kehidupan,ia menjelaskan proses kreatif dari mekanisme pertahanan yang merupakan upaya tidak sadar untuk menghindari kesadaran mengenai ide-ide yang tidak menyenangkan atau yang tidak dapat diterima
2.      Teori Ernest Kris (1900 -1957) menenkankan bahwa mekanisme pertahanan regresi beralih ke perilaku sebelumnya yang akan memberi kepuasan,jika perilaku sekarang tidak berhasil atau tidak memberi kepuasan yang juga sering muncul dalam tindakan kreatif. Orang–orang kreatif adalah mereka yang paling mampu mengambil bahan–bahan dari alam pikiran tidak sadar.
3.      Teori Carl Jung (1875 – 1961) juga percaya bahwa ketidaksadaran memainkan peranan yang amat penting dalam kreativitas tingkat tinggi.Secara tidak sadar kita mengingat pengalaman–pengalaman yang paling berpengaruh dari nenek moyang kita dan dari ketidaksadaran kolektif ini timbul penemuan,teori,seni,dan karya-karya baru lainnya.
b.      Teori Humanistik
Berbeda dari teori psikoanalisa,teori humanistik melihat kreativitas sebagai hasil dari kesehatan psikologis tingkat tinggi dan kreativitas dapat berkembang selama hidup dan tidak terbatas pada lima tahun pertama.
1.      Teori Abraham Maslow ( 1908 – 1970) manusia mempunyai naluri dasar yang menjadi nyata sebagai kebutuhan.Kebutuhan ini harus dipenuhi dalam urutan tertentu
2.      Teori Carl Rogers ( 1902 – 1987) mengatakan bahwa ada tiga kondisi dari pribadi yang kreatif  yaitu :   1. Keterbukaan terhadap pengalaman 2. Kemampuan untuk menilai situasi dengan patokan pribadi seseorng dan 3. Kemampuan untuk bereksperimen ,untuk bermain dengan konsep – konsep.
Setiap orang yang memiliki ketiga ciri ini kesehatan psikologisnya sangat baik. Orang ini berfungsi sepenuhnya,menghasilkan karya–karya kreatif dan hidup secara kreatif.Ketiga ciri ini juga merupakan dorongan dari dalam untuk berkreasi
Ciri – ciri seseorang yang mempunyai kepribadian kreatif ditunjukan dengan rasa ingin tahu dan dalam melakukan sesuatu tidak terlalu menghiraukan kritik atau ejekan dari orang lain,orang yang inovatif berani untuk berbeda.Seperti yang dikatakan Treffinger bahwa pribadi yang kreatif biasanya lebih terorganisasi dalam tindakan.Seperti yang saya alami saat pertama kali diberikan tugas disitu saya mulai mencari suatu ide untuk membuat tugas tersebut dan saya memikirkannya matang – matang dan mepertimbangkan apakah hasil kreatifitas saya cukup menarik,ide- ide spontan yang muncul dari diri saya membuat saya lebih berusaha berfikir untuk membuat suatu bentuk kreatifitas dari kertas tersebut.Awalnya saya mendapat ide untuk membuat sesuatu,tetapi setelah dipertimbangkan sepertinya itu terlalu biasa dan saya memutuskan untuk mencari ide yang lain untuk membuat sesuatu yang lebi rumit yang berbeda dari yang lainnya.
Aspek yang kedua ialah Pendorong (Press)  bakat kreatif seseorang akan terwujud jika ada dorongan dari lingkungan ataupun jika ada dorongan yang kuat dari dalam dirinya untuk menghasilkan sesuatu.Doronga ini merupakan motivasi primer untuk kretaivitas ketika individu membentuk hubungan – hubungan baru dengan lingkungannya dalam upaya menjadi dirinya sepenuhnya (Rogres,dalam Vernon ,1982).Dalam hal pembuatan tugas kreatifitas saya juga,mendapat dorongan dari lingkungan yaitu dari teman – teman saya yang juga memberikan beberapa masukan ide-ide kepada saya dalam membuat tugas tersebut tetapi saya juga mendapatkan dorogan yang kuat dari dalam diri saya untuk mengerjakan tugas tersebut dikarenakan saya harus dapat mengerjakan tugas tersebut dalam waktu yang kurang dari seminggu ditambah lagi saya kurang mengerti dengan apa yang seharusnya dibuat untuk tugas itu yang dikarenakan saya tidak masuk dipertemuan pertama.
Kemudian aspek yang ketiga ialah Proses. Proses dimana saat kita melakukan pembuatan produk kretaivitas.Saya sendiri dalam proses pembuatan produk kreatif tersebut melalui beberapa langkah – langkah yang dibuat oleh Wallas (1926),adapun langkah – langlah proses kreatif menurut Wallas dan bukunya The Art of Thought (Piirto,1992) yang sampai sekarang masih banyak diterapkan dalam pengembangan kreativitas yang meliputi 4 tahap:   
1.Tahap persiapan ,dimana seseorang mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan belajar berfikir,mencari jawaban dan bertanya kepada orang,dimana pada saat itu saya mulai berfikir ingin membuat apa dan bertanya meminta masukan juga kepada beberapa teman saya untuk membantu saya menemukan ide–ide
2.Tahap inkubasi dimana pada tahap ini saya sudah mulai memikirkan beberapa  ide – ide yang sudah saya dapat dan saya mulai memikirkannya secara tidak sadar dan pada tahap ketiga yaitu 
3.Tahap iluminasi yang sudah timbul inspirasi atau gagasan baru untuk menghasilkan produk kreatifitas tersebut 
4.Tahap yang terakhir ialah tahap verifikasi atau tahap evaluasi yaitu ide saya itu harus dipikirkan apakah realistis atau tidak ,diperluka pemikiran divergensi(pemikiran kretaif) dan pemikiran konvergensi ( pemikrian kritis)
Dan yang terakhir,aspek yang keempat ialah Produk ,kondisi yang memungkinkan seseorang menciptakan produk kreatif yang bermakna ialah kondisi pribadi dan kondisi lingkungan ,yaitu sejuah mana keduanya mendorong (press) seseorang untuk melibatkan dirinya dalam  proses kreatif.dengan dimilikinya  bakat dan ciri – ciri pribadi yang kreatif dan dengan dorongan internal maupun eksternal untuk bersibuk diri secara kreatif,maka produk- produk kreatif yang bermakna dengan sendirinya akan timbul.
Istilah produk dalam hal ini tidak terbatas pada produk komersial,tetapi meliputi keragaman dari benda atau gagasan,konsep kreativitas yang baru. Besemer dan Treffinger menyarankan bahwa produk kreatif dapat digolongkan menjadi tiga kategori yaitu :
1.      Kebaruan ( novelty) : sejauh mana produk itu baru dan produk itu orisinal dalam arti sangat langka diantara produk – produk yang dibuat oleh orang – orang dengan pengalaman dan pelatihan yang sama yang dapat menimbulkan kejutan dan orang kaget dengan produk tersebut.
2.      Pemecahan (resolution) : sejauh mana produk itu memenuhi kebutuhan dari situasi bermasalah.Produk itu juga harus bermakna menurut para pengamat,karena memenuhi kebutuhan dan berguna karena dapat diterapkan secara praktis.
3.      Kerincian (elaboration) dan sintesis : sejauh mana produk itu menggabung unsur – unsur yang tidak sama menjadi keseluruhan yang canggih.Lima kriteria untuk menilainya ialah : produk itu harus organis,elegan,kompleks,dapat dipahami dan menunjukkan keterampilan yang baik.
Dengan demikian melalui pendekatan 4P kita dapat terus mengembangkan kreativitas yang ada dalam diri kita untuk membuat sesuatu hal yang kreatif dan berguna :)

Kamis, 12 September 2013

1 Pengertian Classical Conditioning
                       
   Penemuan Pavlov yang sangat menentukan dalam sejarah psikologi adalah hasil penyelidikannya tentang refleks berkondisi (conditioned reflects). Dengan penemuannya ini Pavlov meletakkan dasar-dasar Behaviorisme, sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi penelitian-penelitian mengenai proses belajar dan pengembangan teori-teori tentang belajar. Bahkan America Psychological Association (A.P.A.) mengakui bahwa Pavlov adalah orang yang terbesar pengaruhnya dalam psikologi modern di samping Freud.
Classic conditioning (pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, dimana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan.
            Eksperimen-eksperimen yang dilakukan Pavlov dan ahli lain tampaknya sangat terpengaruh pandangan behaviorisme, dimana gejala-gejala kejiwaan seseorang dilihat dari perilakunya. Hal ini sesuai dengan pendapat Bakker bahwa yang paling sentral dalam hidup manusia bukan hanya pikiran, peranan maupun bicara, melainkan tingkah lakunya. Pikiran mengenai tugas atau rencana baru akan mendapatkan arti yang benar jika ia berbuat sesuatu (Bakker, 1985).
            Bertitik tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan rangsangan-rangsangan tertentu, perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang didinkan. Kemudian Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan binatang (anjing) karena ia menganggap binatang memiliki kesamaan dengan manusia. Namun demikian, dengan segala kelebihannya, secara hakiki manusia berbeda dengan binatang.
Percobaan Pavlov mengenai fungsinya kelenjar ludah pada anjing merupakan contoh klasik bagaimana perilaku tertentu dapat dibentuk melalui pengaturan dan manipulasi lingkungan. Proses pembentukan perilaku semacam itu di sebut proses pensyaratan (Conditioning prosess). Air liur anjing yang secara alami banyak hanya keluar apabila ada makanan, pada akhirnya dengan proses pensyaratan air liur dapat keluar sekalipun tidak ada makanan.
Berikut ini adalah percobaan Pavlov beserta dengan langkah-langkahnya :
Pertama anjing disajikan tepung daging (US), menimbulkan respon anjing berupa air liur (UR). Pada situasi lain disajikan cahaya lampu (CS), ternyata tidak menghasilkan respon keluarnya air liur, alih-alih anjing hanya memperhatikan lampu. Hal ini merupakan keadaan prabelajar. Selanjutnya tepung daging disajikan hampir bersamaan dengan cahaya lampu secara berulangan-ulang (US + CS yang menghasilkan UR + CR). Inipun merupakan proses pembelajarannya.
1. US (unconditioned stimulus) = stimulus asli atau netral: Stimulus tidak dikondisikan yaitu stimulus yang langsung menimbulkan respon, misalnya daging dapat merangsang anjing untuk mengeluarkan air liur.
2. UR (unconditioned respons): disebut perilaku responden (respondent behavior) respon tak bersyarat, yaitu respon yang muncul dengan hadirnya US, yaitu air liur anjing keluar karen anjing melihat daging.
3. CS (conditioning stimulus): stimulus bersyarat, yaitu stimulus yang tidak dapat langsung menimbulkan respon. Agar dapat menimbulkan respon perlu dipasangkan dengan US secara terus-menerus agar menimbulkan respon. Misalnya bunyi bel akan menyebabkan anjing mengeluarkan air liur jika selalu dipasangkan dengan daging.
4. CR (conditioning respons): respons bersyarat, yaitu rerspon yang muncul dengan hadirnya CS, Misalnya: air liur anjing keluar karena anjing mendengar bel.
Pada akhirnya anjing mengeluarkan air liur (UR) ketika disajikan cahaya (CS) sekalipun tidak diikuti penyajian tepung daging. Keluarnya air liur sebagai respon terhadap stimulus cahaya ini di sebut perilaku hasil belajar atau hasil pengkondisian. Apabila ada dua hal yang prosedural yang harus dipenuhi dalam percobaan ini yaitu : (1) penyajian CS itu segera diikuti oleh US, dan
(2) hal yang demikian itu dilakukan berulang-ulang sampai CR terbentuk.
Dalam percobaan yang lain cahaya itu diganti dengan bunyi bel sebelum diberikan makanan kepada anjing dibunyikan bel, setelah hal yang demikian itu diulang-ulang secukupnya, maka dengan mendengar bunyi bel saja anjing telah mengeluarkan air liur.
Percobaan selanjutnya dilakukan untuk mengetahui apakah respon bersyarat yang telah terbentuk itu dapat dihilangkan. Prosedurnya, perangsang bersyarat yang telah menimbulkan respon bersyarat disajikan berulang-ulang tanpa diikuti perangsang tak bersyarat. Mula-mula anjing mengeluarkan air liur, lama kelamaan dia tidak lagi mengeluarkan air liur, sekalipun menyaksikan perangsang bersyarat.
Kesimpulannya, dalam percobaan-percobaan ini anjing belajar bahwa cahaya lampu ataupun bunyi bel itu mula-mula sebagai datangnya makanan (pembentukan CR), kemudian ia belajar bahwa cahaya lampu atau bunyi bel sebagai pertanda tidak ada makanan (penghilang CR).
2.1.1 Prinsip Classical Conditioning
1)      Penguasaan (akuisisi)
Penguasaan atau bagaimana organisme mempelajari sesuatu respon atau respon baru berlaku beberapa tingkatan. Juga semakin sering organisme itu mencoba, lebih kuat penguasaan berlaku.
2.1.2 Stimulus Classical Conditioning
1)       Generalisasi (generalitation)
Dalam eksperimennya, Pavlov juga telah menggunakan lonceng yang berbeda nada, tetapi anjing itu masih mengeluarkan air liur. Ini menunjukkan bahwa sesuatu organisme yang telah terlazim dengan dikemukakan sesuatu rangsangan tak terlazim (RTT seperti lonceng) juga akan menghasilkan respon terlazim (GT = keluar air liur) walau pun rangsangan itu berbeda atau hampir sama (yaitu, nada lonceng yang berbeda). Dengan kata lain, organisme itu dapat membuat generalisasi bahwa suara yang berbeda atau hampir sama mungkin diikuti dengan respon (makanan).
2)      Diskriminasi (Discrimination)
Pavlov juga mendapati bahwa apabila dia mengubah nada lonceng, anjing itu masih mengeluarkan air liur. Bila nada lonceng itu jauh berbeda dari lonceng yang asli, anjing tersebut tidak mengeluarkan air liur. Ini menunjukkan bahwa organisme tersebut dapat membedakan atau mendikriminasi antara rangsangan yang dikemukakan dan memilih untuk tidak bertindak atau bergerak balas. Yaitu, sesuatu organisme mampu untuk bergerak balas ke sesuatu rangsangan tetapi tidak ke rangsangan yang lain.
3)    Penghapusan (Extinction)
Jika sesuatu rangsangan terlazim (lonceng) tidak diikuti dengan rangsangan tak terlazim (makanan), lama kelamaan organisme itu tidak akan melakukan respon.
2.2 Pengertian Operant Conditioning
Operant conditioning merupakan salah satu dari dua jenis pengondisian dalam pembelajaran asosiasi (associative learning). Pembelajaran asosiatif adalah pembelajaran yang muncul ketika sebuah hubungan dibuat untuk menghubungkan dua peristiwa. Dalam operant conditoning, individu belajar mengenai hubungan antara sebuah perilaku dan konsekuensinya. Sebagai hasil dari hubungan asosiasi ini, setiap individu belajar untuk meningkatkan perilaku yang diikuti dengan pemberian  ganjaran dan mengurangi perilaku yang diikuti dengan hukuman. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengertian operant conditioning adalah sebuah bentuk dari pembelajaran asosiatif di mana konsekuensi dari sebuah perilaku mengubah kemungkinan berulangnya perilaku (King, 2010 :356).
2.2.1        Prinsip-Prinsip Operant Conditioning
1)       Penguatan (reinforcement)
Penguatan adalah proses belajar untuk meningkatkan kemungkinan dari sebuah perilaku dengan memberikan atau menghilangkan rangsangan. Prinsip penguatan dibagi menjadi dua, yaitu penguatan positif dan penguatan negatif.
a. Positive Reinforcement (Penguatan Positif)
Penguatan positif (positive reinforcement) adalah suatu rangsangan yang diberikan untuk memperkuat kemungkinan munculnya suatu perilaku yang baik sehingga respons menjadi meningkat  karena diikuti dengan stimulus yang mendukung. Sebagai contoh, seorang anak yang pada dasarnya memiliki sifat pemalu diminta oleh guru maju ke depan kelas untuk menceritakan sebuah gambar yang dibuat oleh anak itu sendiri. Setelah anak tersebut membacakan cerita, guru memberikan pujian kepada anak tersebut dan teman-teman sekelasnya bertepuk tangan. Ketika hal tersebut berlangsung berulang-ulang, maka pada akhirnya anak tersebut menjadi lebih berani untuk maju ke depan kelas, bahkan kemungkinan sifat pemalunya akan hilang.
Rangsangan yang diberikan untuk penguatan positif dapat berupa hal-hal dasar seperti, makanan, minuman, sex, dan kenyamanan pisikal. Selain itu, beberapa hal-hal lain seperti uang, persahabatan, cinta, pujian, penghargaan, perhatian, dan kesuksesan karir juga dapat digunakan sebagai rangsangan penguatan positif
       b. Negative Reinforcement (Penguatan Negatif)
Negative Reinforcement adalah peningkatan frekwensi suatu perilaku positif karena hilangnya rangsangan yang  merugikan (tidak menyenangkan). Sebagai contoh,  seorang ibu yang memarahi anaknya setiap pagi karena tidak membersihkan tempat tidur, tetapi suatu pagi si anak tersebut membersihkan tempat tidurnya tanpa di suruh dan si ibu tidak memarahinya, pada akhirnya si anak akan semakin rajin membersihkan tempat tidurnya diringi dengan berkurangnya frekwensi sikap kemarahan dari ibunya.
Perbedaan mutlak penguatan negatif dengan penguatan positif terletak pada penghilangan dan penambahan stimulus yang sama-sama bertujuan untuk meningkatkan suatu perilaku yangbaik.
* Penguatan Positif + Stimulus => Perilaku baik
     * Penguatan Negatif – Stimulus => Perilaku baik
2)      Hukuman (Punishment)
Penguatan negatif (negative reinforcement) tidaklah sama dengan hukuman, keduanya sangat berbeda. Penguatan negatif lebih bertujuan untuk meningkatkan probabilitas dari sebuah perilaku, sedangkan hukuman lebih bertujuan untuk menurunkan probabilitas terjadinya perilaku. Dalam penguatan negatif respon akan meningkat karena konsekuensinya, sedangkan pada hukuman respon akan menurun karena konsekuensinya. Sebagai contoh, ketika kita meminum obat saat kita sakit kepala dan  hasilnya sakit kepala kita hilang , maka kita  akan meminum obat yang sama saat kita mengalami sakit kepal. Penghilangan  rasa sakit kepala pada kasus ini merupakan penguatan negatif, sedangkan apabila setelah meminum obat ternyata kita mendapat alergi, maka tentunya kita tidak akan meminum obat yang sama lagi sebab mendapat alergi dalam kasus ini merupakan sebuah hukuman sehingga perilaku berikutnya tidak akan mengulangi hal yang sama.
Hukuman (punishment) adalah sebuah konsekuensi untuk mengurangi atau menghilangkan kemungkian sebuah perilaku akan muncul. Sebagai contoh, seorang anak bermain-main pedang-pedangan menggunakan pisau, kemudian kulit jari tanganya terpotong ketika pisau tersebut salah diarahkan. Pada akhirnya anak tersebut akan sedikit kemungkinannya bermain-main menggunakan pisau.
    Hukuman positif dan hukuman negatif
Dalam hukuman juga terdapat pembagian antara positif dan negatif. Hukuman positif (positive punishment) dimana sebuah perilaku berkurang ketika diikuti dengan rangsangan yang tidak menyenangkan, misalnya ketika seseorang anak mendapat nilai buruk di sekolah maka orangtuanya akan memarahinya hasilnya anak tersebut akan belajar lebih giat untuk menghindari omelan orangtuanya (akan kecil kemungkinannya anak tersebut akan mendapatkan nilai jelek). Hukuman negatif (negative punishment), sebuah perilaku akan berkurang ketika sebuah rangsangan positif atau menyenagkan diambil. Sebagai contoh, seorang anak mendapat nilai jelek akibat terlalu sering bermain-main dengan temannya dan malas belajar, kemudian  anak tersebut dihukum oleh orangtuanya untuk tidak boleh bermain dengan teman-temannya selama sebulan, akhirnya anak tersebut tidak akan terlalu sering bermain-main dengan temannya atau lebih mengutamakan pelajarannya
2.2.2 Stimulus Operant Conditioning
1)      Generalization (Generalisasi)
Generalization  pada operant conditioning adalah memberikan respon yang sama terhadap stimulus yang sama atau mirip. Fokus perhatiannya adalah  tingkat dimana perilaku disamaratakan dari satu situasi ke situasi yang lain.
Sebagai contoh, anak kecil yang mendapatkan penguatan oleh orang tuanya karena menimang dan menyayangi anjing keluarga, ia akan segera mengeneralisasikan respon menimang anjing itu dengan  anjing yang lain. Contoh lain, seorang guru memuji siswanya apabila siswa itu mengajukan pertanyaan yang bagus yang berhubungan dengan bahasa Inggris, hal ini disamaratakan dengan kerja keras dalam sejarah, matematika maupun dalam mata pelajaran yang lain.
3)      Discrimination (diskriminasi)
Diskriminasi dalam operant conditioning berarti melibatkan perbedaan antara stimulus-stimulus dan kejadian-kejadian lingkungan, atau dapat diartikan merespon stimulus yang menunjukkan bahwa sebuah perilaku akan atau tidak akan dikuatkan.
Sebagai contoh, Jika dikaitkan dengan contoh diatas dimana anak akan mengeneralisasikan menyayangi anjing keluarga dengan anjing yang lainnya, sedangkan hal itu bisa saja berbahaya ( dapat dikatakan, anjing tetangga sangat galak dan suka menggigit) maka orang tua harus memberikan latihan diskriminasi, sehingga anak mendapatkan penguatan jika ia menyayangi anjing keluarga dan bukan anjing tetangga, dengan cara  oranng tua menunjukkan aspek-aspek anjing yang melihatkan keramahannya( misalnya ekornya biasa dikibas-kibas) sehingga anak akan bisa mengenali mana anjing yang rmah dan biisa disayang dan mana anjing yang galak. Contoh lain, seorang siswa tahu bahwa wadah di  meja guru yang bertulisan “ Matematika” adalah tempat ia harus meletakkan tugas matematika hari ini, sementara wadah lainnya yang bertulisan “ Bahasa Inggris “ adalah tempat tugas bahasa inggris hari ini harus diletakkan.
4)      Extinction (Pelenyapan)
Extinction  merupakan suatu penghentian penguatan. Jika dalam suatu kasus dimana pada perilaku sebelumnya individu mendapat penguatan kemudian tidak lagi dikuatkan sehingga akan ada kecenderungan penurunan perilaku, maka hal inilah yang dinamakan munculnya suatu pelenyapan (extinction).
Seorang siswa mendapatkan beasiswa setiap kali berhasil menjadi juara kelas. Namun, suatu ketika beasiswa dihentikan karena adanya kekurangan dana dari pihak si pemberi beasiswa sehingga tidak sanggup lagi memberi bantuan. Ketika pihak pemberi beasiswa tersebut tidak memberi lagi beasiswa, semangat belajar siswa tersebut menjadi menurun.
Pelenyapan  juga merupakan suatu strategi menghentikan penguatan dimana pelenyapan ini menarik penguatan positif terhadap perilaku tidak tepat atau tidak pantas. Hal ini dikarenakan banyaknya perilaku yang tidak tepat dipertahankan akibat adanya penguatan positif terhadap perilaku tersebut. Sebagai contoh, orangtua yang kurang peka terkadang cenderung lebih memperhatikan perilaku yang tidak baik dari anaknya, seperti menegur, memarahi, membentak, dan sebagainya tanpa sedikitpun memperhatikan hal-hal baik yang dilakukan oleh anaknya, seperti memuji prestasi-prestasi dan kelakuan baik anak-anaknya. Dalam hal ini, sangat diperlukan adanya suatu pelenyapan terhadap penguatan pada hal-hal negatif yang dilakukan anaknya dan lebih memperhatikan dan memunculkan penguatan pada hal-hal positif yang dilakukan si anak.
2.3 Perbedaan Classical Conditioning dengan Operant Conditioning
Pada dasarnya teori belajar klasik (classical conditioning) dan teori belajar instrumental (operant conditioning) memiliki perbedaan satu dengan yang lainnya. Hal ini dapat dilihat pada:
1.    Classical conditioning muncul akibat adanya asosiasi (hubungan) antara dua stimulus atau rangsangan, seperti yang kita ketahui pada percobaan Ivan Pavlov mengenai hubungan antara makanan dan bunyi bel. Sebaliknya, operant conditioning muncul akibat adanya asosiasi antara respon dan konsekuensi yang timbul, seperti halnya berlatih dengan giat akan dapat memenangkan pertandingan.
2.      Pada classical conditioning biasanya meliputi mengenai refleks-refleks, perilaku yang timbul adalah prilaku yang tidak disengaja yang dikontrol oleh syaraf otonom. Sebaliknya pada Operant conditioning lebih kepada prilaku-prilaku yang sadar dan diatur oleh syaraf simpatis.
3.      Pada Classical conditioning UCS (Unconditioned Stimulus) dipasangkan dengan CS (Conditioned Stimulus), tetapi prilaku yang timbul bersifat independent. Pada operant conditioning, konsekuensi penguatan diberikan hanya jika respon yang dikondisikan terjadi.
 2.4 Aplikasi Classical Conditioning dan Operant Conditioning dalam Pelajaran Bahasa Inggris
Classical conditioning  dan operant conditioning tidak lain memberikan gambaran bahwa siswa belajar menyukai atau tidak menyukai sekolah, pelajaran, dan atau guru atau apa saja yang ada di lingkungan belajar. Sebab respon yang muncul adalh respon emosional dan fisiologis yang bisa berupa senang, takut, terkejut, gembira dan semacamnya.
1.      Berikan lingkungan belajar yang hangat dan aman baik itu dalam memberikan tugas-tugas belajar, sehingga kelas anda diasosiasikan dengan positive emotions
-          Menekankan pada kerja sama dan kompetisi antar kelompok daripada individu, banyak siswa yang akan memiliki respons emosional secara negatif terhadap kompetisi secara individual, yang mungkin akan digeneralisasikan dengan pelajaran-pelajaran yang lain, misal dalam kegiatan Listening pebelajar akan lebih nyaman jika sesekali dapat melakukan kegiatan berkelompok dalam mendiskusikan jawaban tentang apa yang mereka dengar, daripada mereka ditekan untuk mendengarkan sendiri serta menyimpulkan sendiri hasil dari Listening tersebut. Dengan demikian stimulus yang telah diberikan akan sedikit mengurangi rasa tegang pada si pebelajar atau menimbulkan respon yang positif.
-          Kedua, sebagai seorang guru bahasa inggris, membangun suatu aturan yang melarang siswa mengejek temannya dalam cara apapun dalam pelajaran bahasa inggris, saat conversation, debate, ataupun reading. Entah itu pronunciationnya salah, atau ejaannya. Sehingga, siswa merasa nyaman untuk belajar bahasa inggris dengan benar, dan memahami bahwa semua anggota di sekolah bertujuan sama, yaitu untuk belajar.
2.      Perlu mendampingi dan membantu siswa mengatasi secara bebas dan sukses dalam situasi-situasi yang secara potensial memancing kecemaskan atau keadaan yang tertekan
-          Mendorong siswa yang pemalu untuk mengajarkan siswa lain cara memahami materi pelajaran, misal dalam pelajaran speaking, terkadang siswa sangat takut untuk berbicara di depan teman-teman sekelas. Dan menimbulkan rasa cemas yang membuatnya gugup saat berbicar. Maka dengan perlahan pengajar harus membantu siswanya untuk lebih mudah dalam berbicara bahasa Inggris. Pertama, jika siswa takut berbicara di depan kelas mintalah siswa untuk membacakan sebuah laporan di depan kelompok kecil sambil duduk ditempat, dan lebih bebas dalam berbicara, baik itu susunan grammarnya ataupun pronounciationnya, kemudian apabila sudah terbiasa para pengajar menaikkan lagi berikutnya dengan berdiri. Setelah dia terbiasa, kemudian mintalah ia untuk membaca laporan di depan seluruh murid di kelas.
3.      Perlu membantu siswa untuk mengenal sendiri perbedaan dan persamaan terhadap situasi-situasi sehingga mereka dapat membedakan atau memilah dan menggeneralisasikan sendiri secara tepat
-          Mendorong siswa yang pemalu untuk mengajarkan siswa lain cara memahami materi pelajaran.
-          Dalam pelajaran speaking, terkadang siswa sangat takut untuk berbicara di depan teman-teman sekelas. Dan menimbulkan rasa cemas yang membuatnya gugup saat berbicara. Maka dengan perlahan pengajar harus membantu siswanya untuk lebih mudah dalam berbicara bahasa Inggris. Pertama, jika siswa takut berbicara di depan kelas mintalah siswa untuk membacakan sebuah laporan di depan kelompok kecil sambil duduk ditempat, dan lebih bebas dalam berbicara, baik itu susunan grammarnya ataupun pronounciationnya, kemudian apabila sudah terbiasa para pengajar menaikkan lagi  berikutnya dengan berdiri. Setelah dia terbiasa, kemudian mintalah ia untuk membaca laporan di depan seluruh murid di kelas.
-          Membuat tahap jangka pendek untuk mencapai tujuan jangka panjang, misalnya dengaan memberikan tes harian, mingguan, agar siswa dapat menyimpaan apa yang dipelajari dengan baik
4.      Menerapkan sistem belajar independen
-          Misal, guru mengajak siswa datang ke perpustakaan dan membaca buku bacaan bahasa Inggris sesuai minat si pebelajar, baik itu buku pelajaran, novel, atau browsing-browsing di Internet. Hal tersebut akan cukup membantu siswa untuk belajar bahasa Inggris dari berbagai macam sumber, tidak hanya terpaku pada pelajaran yang diberikan oleh guru saja.

Rabu, 11 September 2013


BAB I
PEMBAHASAN
A.    DASAR PERTIMBANGAN UNTUK PENGEMBANGAN KREATIVITAS
1.                  Hakikat Pendidikan
Kemajuan suatu kebudayaan bergantung pada cara kebudayaan tersebut mengenali, menghargai , dan memanfaatkan sumber daya manusia dan hal ini berkaitan erat dengan kualitas pendidikan yang diberikan erat dengan kualitas pendidikan yang diberikan kepada anggota masyarakatnya, kepada peserta didik.
      Tujuan pendidikan pada umumnya adalah menyediakan lingkungan  memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya secara optimal, sehingga ia dapat mewujudkan dirinya dan berfungsi sepenuhnya, sesuai dengan kebutuhan pribadinya dan kebutuhan masyarakat. Pendidikan bertanggung jawab untuk memandu-yaitu mengidentifikasi dan membina-serta memupuk-yaitu mengembangkan dan meningkatkan-bakat tersebut, termasuk bakat yang ada pada mereka yang berbakat istimewa atau memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa (gifted and talented).
2.         Kebutuhan akan Kreativitas
Meningkatnya otomatisasi dalam perusahaan modern membawa dampak bahwa pengambilan keputusan perorangan  dan pemikiran konstruktif dalam bekerja tidak diperlukan lagi, kecuali pada jabatan-jabatan tertentu saja. Semakin panjangnya waktu luang menyebabkan kita membutuhkan penyaluran energi ke usaha atau kegiatan kreatif.
                        Bahkan dalam kehidupan pribadi dan keluarga tampak ada kecenderungan kuat kearah penstereotipan ( perilaku klise ), seakan-akan  perilaku orisinal atau yang “ lain daripada yang lain “ di pandang  sebagai  aneh bahkan dapat berbahaya. Meningkatnya kemajuan teknologi dan meledaknya jumlah penduduk yang disertai berkurangnya persediaan sumber-sumber alami.
3.         Masalah  Penelitian dan Pengembangan Kreativitas
Salah satu kendala konseptual  utama terhadap studi kreativitas adalah pengertian tentang kreativitas sebagai sifat yang diwarisi oleh  orang yang berbakat luar biasa atau genius.kreativitas di asumsikan sebagai sesuatu yang di miliki atau tidak di miliki dan tidak banyak yang dapat di lakukan melalui pendidikan untuk mempengaruhi nya.
                        Kendala konseptual lain nya terhadap”gerakan kreatifitas” terletag pada alat-alat ukur (tes) yang biasa nya di pakai di sekolah-sekolah,yaitu tes intelegensi tradisyonal yang mengukur kemampuan murid untuk belajar dan tes prestasi belajar untuk menilai kemajuan siswa selama program pendidikan.                                Kemampuan berfikir divergen dan kreatif, yaitu menjajaki berbagai kemungkinan jawaban atau suatu masalah,jarang diukur.
                        Sebab utama dari kekurangan perhatian dunia pendidikan dan fsikologiterhadap kreatifitas terletag pada kesulitan merumuskan konsep kretifitas itu sendiri.
                        Sebab lain dari kelalaian terhadap masalah perkembangan kreativitas adalah metodelogi. Tuntutan akan alat-alat ukur yang mudah di gunakan dan objektiv telah mengalihkan perhatian dari upaya untuk mengukur kemampuan kreatif tang mengharuskan di gunakan nya jenis tes berfikir difergen.
                        Penggunaan model stimulus-response dalam teori belajar merupakan sebab lain dari kurang nya perhatian psikolagi dan pendidikan terhadap kreatifitas (Guilford,1959)
4.            Hubungan Kreatifitas-Intelegensi
        Asumsi bahwa intelegensi adalah kualitas yang tunggal (unitari), diwariskan secara genetis,dan dapar diukur.Spearman (1929) percaya  bahwa intelegensi mencakup faktor (daya penalaran abstrak) yang konsisten,dan faktor spesifik  (s) yang berbeda pada kinerja yang berbeda.Thurstone (1938) sebalikanya percaya bahwa intelegensi bersifat multi demensi,mencakup tujuh kemampuan mental primer (primary mental abilities).Teori-teori dewasa ini lebih condong meluaskan condong meluaskan konsep intelegensi,meskipun dengan cara-cara yang berbeda.Kreativitaspun merupakan konsep yang bersifat multidemensi,yang dapat ditinjau dari demensi-demensi berbeda.Guliford dengan pidatonye yang terkenal pada tahun 1950 berupaya menarik perhatian tehadap masalah kreativitas dalam pendidikan,yaitu bahwa pengembangan kreativitas ditelantarankan dalam pendidikan formal padahal ini amat bermakna bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan seni budaya.Teori ‘’ambang intelegensi untuk kreativitas ‘’ dari Anderson memaparkan bahwa sampai tingkat intelegensi tertentu,yang di perkirakan seputar IQ 120,ada hubungan yang erat antara intelegensi dan kreativitas.Penelitian Utama Munandar (1977) ditunjukan bahwa hasil studi kolerasi dan analisis faktor membuktikan tes kreativitas  sebagai demensi fungsi kognitif yang relatif bersatu  yang dapat dibedakan dari tes intelegensi,tetapi berfikir divergen (kreatifitas)juga menunjukan hubungan yang bermakna dengan berfikir konvergen (intelegensi).
5.         Peranan Inteligensi dan Kreativitas terhadap Prestasi Belajar
                        Masalah dimensionalitas kreativitas dan intelegensi dalam pendidikan adalah masalah peranan kreativitas dan intelegensi dalam prestasi di sekolah.
                        Torance (1959) , Getzels dan Jackson (1962), dan Yamamoto (1959) berdasarkan studinya masing-masing sampai pada kesimpulan yang sama, yaitu bahwa kelompok siswa yang kreativitasnya tinggi tidak berbeda dalam prestasi sekolah dari kelompok siswa yang intelegensi nya relatif lebih tinggi.
                        Milgram (1990) menekankan bahwa intelegensi atau IQ  semata-mata tidak dapat meramalkan kreativitas dalam kehidupan nyata. Demikian pula tes kreativitas sendiri.
                        Menurut Cropley (1994) true giftedness ( keberkatan sejati ) merupakan gabungan antara kemampuan konvensional ( ingatan baik, berpikir logis,pengetahuan faktual,kecermatan , dan sebagainya) dan kemampuan kreatif ( menciptakan gagasan, mengenal kemungkinan alternatif,melihat kombinasi yang tidak diduga,memiliki keberanian untuk mencoba sesuatu yang tidak lazim, dan sebagainya.
                        Dengan mengetahui hubungan antara kreativitas, intelegensi, dan ingatan dengan prestasi belajar, serta bagaimana sumbangan relatif masing-masing terhadap keberhasilan sekolah, kita dapat menarik kesimpulan mengenai corak dan tujuan sistem pendidikan disebut  diagnostik terbalik (inverted diagnostics) oleh Hofstee (1969). Dalam asesment siswa maupun penilaian sistem pendidikan sebaiknya digunakan berbagai tes yang yang mempunyai arti psikologis yang bermakna dan yang cukup beragam, sehingga memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai  kualitas sistem pendidikan. Akhir-akhir ini indonesia tampak peningkatan penggunaan tes kreativitas baik dalam bidang pendidikan untuk seleksi  penerimaan siswa, calon mahasiswa dan calon guru-guru maupun dalam perusahaan seleksi karyawan,staf, dan manajer.
6.         Sikap Kreatif Sebagai Ciri Non-Bakat (Non-AptitudeTraid ) dari Kreatifitas
                        Produktifitas kreatif dipengaruhi oleh peubah (Variable) majemuk yang meliputi factor sikap,motifasi,dan tempramen di samping kemampuan kognitif.
Studi yang di lakukan Roe (1952),MacKinnon(1962),dan Cattell(1968),  semuanya menunjukan bahwa profil kepribadian dari tokoh-tokoh yang unggul kreatif berbeda dari profil kepribadian rata-rata. Factor analisis seputar cirri-ciri utama dari kreatifitas,membedakan GuilFord (1956) membedakan antara cirri bakat (Aptitude traid) dan cirri non-bakat (Non-Aptitude Traide) yang berhubungan dengan kreatifitas.
                        Ciri-ciri aptitude dari kreatifitas (berfikir kreatif) meliputi kelancaran,kelenturan atau keluesan (fleksibilitas),dan orisinalitas dalam berfikir,dan cirri-ciri ini di oprasional kan dalam tes berfikir difergen. Antar cirri-ciri non-uptude atau efektif ini misalnya kepercayaan diri,keuletan,apresiasi estetika,kemandirian dan cirri-ciri uptitude dari klreatifitas misalnya kelancaran,kelnturan,dan orisinalitas dalam berfikir. Keberbakatan atau (giftedness) merupakan perpaduan antara kemampuan umum atau kecerdasan (inteligensi), kreatifitas(kemampuan berfikir kreatif dan bersikap kreatif),dan pengikatan diri terhadap[ tugas (taskcomitment) atau motifasi internal,yang juga merupakan non-aptitude traid.
7.         Sikap Guru dan Orangtua mengenai Kreativitas
Ciri-ciri kepribadian di pengaruhi oleh factor lingkungan seperti, keluarga dan sekolah. Kedua lingkungan pendidikan ini dapat berfungsi sebagai pendorong (press) dalam pengembangan kreatifitas anak . pendidikan adalah mengembang kan sikap dan kemampuan peserta didik yang dapat membantu untuk menghadapi persoalan-persoalan di masa mendatang secara kreatif dan inofatif. Menjejalkan bahan pengetahuan semata-mata tidal akan banyak menolong peserta didik,karna belum tentu di masa mendatang ia dapat menggunakan informasi tersebut. Penelitian menunjukan bahwa perkembangan optimal dari perkembangan berfikir kreatif berhubungan erat dengan cara mengajar.
Getzels dan jacksoon (1962) guru lebih menyukai siswa dengan kecerdasan.
8.         Dasar Pertimbangan yang Berkaitan dengan Perkembangan Kreativitas
   (1) Dewasa ini dampak adanya kesenjangan antara kebutuhan akan kreativitas dan perwujudanya di dalam masyarakat pada umumnya,dan dalam dipendidikan sekolah pada khisusnya.
                        (2)  Pendidikan disekolah lebih berorientasai pada pengembangan kecerdasan (intelegensi) dari pada pengembangan kreativitas sedangkan keduanya  sama pentingnya untuk mencapai keberhasilan dalam belajar dan dalam hidup.
                        (3 ) Pendidikan (guru dan orangtua) masih kurang memahami arti kreativitas yang meliputi ciri bakat dan non bakat dan bagaimana mengembangkan pada anak dalam lingkungan pendidikan: dirumah,diseko;lah dan dalam masyarakat.
                        (4) Masih sangat kurang pelayanan pendiddikan khusus bagi mereka yang berbakat istimewa sebagai sumber daya manusia yang sesuai dengan potensinya, dapat memberikan konstribusi yang bermakna kepada masyarakat. Akibatnya banyax anak berbakat  berprestasi dibawah potensi mereka.
                        (5) Dalam pelayanan pendidikan bagi anak berbakat,pengembangan kreativitas sebagai salah satu faktor utama yang menentukan keberbakatan merupakan suatu tuntutan.
B.     DASAR PERTIMBANGAN UNTUK PENDIDIKAN KEBERBAKATAN
Pada konferensi Asia-Pasifik ke-4 tentang keberbakatan di Jakarta, 4-8 Agustus 1996,Prof.Dr.Wardiman Djojonegoro sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan dalam pidato kuncinya yang berjudul ‘’Gifterdnees: A Gift and a Challenge’’,menyatakan bahwa keberbakatan merupakan karunia dan juga tantangan bagi setiap bangsa (Gift berarti bakat maupun karunia).
 
Pertimbangan atau alasan mengapa pelayanan pendidikan khusus bagi yang berbakat memang di perlukan:
(1)               Keberkatan tumbuh dari proses interaktif antara lingkungan yang merangsang dan kemampuan pembawaan dan prosesnya
(2)               Pendidikan atau sekolah hendaknya dapat memberikan kesempatan pendidikan yang sama kepada semua anak untuk mengembangkan potensinya ( bakat-bakat ) secara penuh.
(3)               Jika anak berbakat dibatasi dan dihambat dalam perkembangannya, jika mereka tidak dimungkinkan untuk maju lebih cepat dan memperoleh materi pengajaran sesuai dengan kemampuannya, sering mereka menjadi bosan,jengkel,atau acuh tak acuh.
(4)               Terhadap kekhawatiran bahwa pelayanan pendidikan khusus bagi anak berbakat akan membentuk kelompok elite, perlu dipertanyakan apa yang dimaksud dengan elite adalah “golongan atas” maka memang di tinjau dari keunggulan bakat dan kemampuannya mereka tergolong elite.
Sehubung dengan pembentukan kelompok elite, sering kekhawatiran ini adalah berdasarkan salah paham bahwa mereka yang berbakat adalah dari golongan sosial ekonomi tinggi.pendapatan ini tidak sesuai dengan kenyataan.
(5)               Anak dan remaja berbakat merasa bahwa minat dan gagasan mereka sering berbeda dari teman sebaya; hal ini dapat membuat mereka merasa terisolasi, merasa diriny “lain daripada yang lain”, sehingga tidak jarang mereka membentuk konsep diri  yng negatif (Yaumil Achir,1990).
(6)               Jika kebutuhan anak berbakat dipertimbangkan, dan dirancang program untuk memenuhi kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan mereka sejak awal, maka mereka menunjukkan peningkatan yang nyata dalam prestasi, sehingga tumbuh rasa kompetensi dan rasa harga diri
(7)               Mereka yang berbakat jika diberi kesempatan dan pelayanan pendidikan yang sesuai akan dapat memberi sumbangan yang bermakna kepada masyarakat dalam semua bidang usaha manusia.
(8)               Dari sejarah toko-toko yang yang unggul dalam bidang tertentu ternyata memang ada di bangku sekolah tidak dikenal sebagai seseorang yang menonjol dalam prestasi sekolah (antara lain Albert Einstein dan Thomas Edison), namun mereka berhasil dalam hidup.
Jadi tidak benar bahwa anak yang berbakat akan dapat mencapai prestasi tinggi dengan sendirinya dan tidak memerlukan perhatian dan pelayanan pendidikan khusus.
C.    KEBIJAKAN
1.               Kebijakan tentang Pelayanan Pendidikan Anak Berbakat
Karena peserta didik berbeda-beda dalam bakat,minat,dan kemampuan,mka implikasinya adalah bahwa perlakuan pendidikan perlu di sesuaikan dengan potensi setiap peserta didik. Sebagai mana mereka yang tingkat kecerdasan nya jauh di bawah rata-rata (tuna grahita) tidak dapat menarik manfaat seutuh nya dari pendidikan biasa (reguler) dan memerlukan pendidikan luar biasa agar kemampuan nya dapat di kembangkan secara optimal,demikian pula peserta didik dengan tingkat kemampuan intelegtual jauh di atas rata-rata (anak berbakat) memerlukan perlakuan pendidikan khusus agar bakat dan potensinya yang unggul dapat di wujudkan sepenuhnya UUSPN 1989 maupun GBHN 1993  amat mendukung p[emberian perhatian dan pelayanan pendidikan khusus tidak hanya bagi anak berbakat tetapi bagi setiap peserta didik dan warga Negara yang memiliki kemampuan dalam kecerdasa luar biasa
2.        Kebijakan tentang Pengembangan Kreativitas
                        Dalam GBHN 1993 (kaidah penuntun)termasuk bahwa “pembangunan ekonomi harus mengaruh pada mantap nya system ekonomi nasyonal berdasarkan pada pancasila dan undang-undang dasar 1945 yang disusun untuk mewujudkan demokrasi ekonomi yang haruis di jadikan dasar pelaksanaan pembangunan yang memiliki ciri, antara lain,potensi,inisiatif,dan daya kreasi setiap warga Negara di perkembangkan sepenuhnya dalam batas-batas yang tidak merugikan kepentingan umum”. Dalam GBHN 1993 dinyakan bahwa/ pengembangan kreatifitas hendak nya di mulai pada anak usioa dini,yaitu di lingkungan keluarga sebagai tempat pendidikan pertama dan dalam pendidikan prasekolah./kreatifitas perlu di pupuk,di kembangkan dan dikembangkan.
3.        Peranan Kreativitas dalam Program Pendidikan Keberbakatan
                        Kreatifitas biasanya di sebut sebagai priopritas. Kreatifitas hendaknya meresap dalam seliruh kurikulum dan iklim kelas melalui factor-faktor srperti sikap menerima keunikan individu, pertanyaan yang berakhir terbuka, penjajakan (eksplorasi) dan kemungkinan membuat pilihan.
D.    KONSEP KREATIVITAS
1.                  Kreativitas dan Aktualisasi Diri
            menurut fisikolog humanistic seperti Abraham maslow dan carl rogers, aktualisasi diri adalah apabila seseorang menggunakan semua bakat dan talenta nya untuk menjadi apa yang dia mampu menjadi mengaktualisasikan atau mewujudkan pontensi nya. Pribadi yang dapat mengaktual;isasikan dirinya adalah terutama seseorang yang sehat mental dapat menerima dirinya,selalu tumbuh,berfungsi  sepenuhnya,dan berfikir demokratis. Menurut maslow 1968 aktualisasi diri merupakn karakteristik yang pundamental,suatu potensialitas yang ada pada semua manusia saat di lahirkan,tetapi yang sering hilang,terhambat atau terpendam dalam proses “pembudayaan”.
            Kreativitas aktualisasi  diri adalah banyak program kreatifitas yang bnerhasil dilandasi oleh tujuan meniingkatkan kesadaran kreatifitas , memperkokh sikap kreatif seperti menghargai gagasan baru . mengajarkan tehnik menemukan gagasan dan memecahkan masalah secara kreatif,dan melatih kemampuan kreatif secara umum.
2.         Konsep Kreativitas dengan Pendekatan Empat P
                        salah satu masalah penting dalam meneliti, mengidentifikasi,dan      mengembang kan kreatifitas adalah bahwa ada begitu banyak definisi tentang      kreatifitas, tetapi tidak ada satu definisi pun yang dapat di terima secara   unifersal  Rhods menyebut keempat jenis devinisi tentang kreatifitas ini      sebagai “fourP’s of Creatifity: Person,Process,Press,Product”.
1)      Definisi Pribadi
Tindakan kreatifitas muncul dari keunikan keseluruhan pribadian dalam interaksi dengan lingkungan nya.fokus pada aspek pribadi jelas dalam definisi ini. Definisi (teori) mutakhir tentang kreatifitas yang juga menekan kan penting nya aspek pribadi di berikan sternbreg dalam “Threefacet model of kreatifity” 1988yaitu kreatifitas merupakan titik pertemuan yang khas antara tiga atribut psikologis: intelegensi ,gaya kognitif, dan kepribadian/ motivasi. Secara bersamaan ketiga segi dalam alam pikiran ini membantu memahami apa yang melatarbelakangi individu yang kreatif.
2)      Definisi Proses
Definisi Torrance ini meliputi seluruh proses kreatif dan ilmiah mulai dari menemukan masalah sampai dengan menyampaikan hasil. Adapun langkah-langkah proses kreatif menurut Wallas  ( 1926, dalam Vernon, 1982) yang sampai sekarang masih banyak diterapkan dalam pengembangan kreativitas meliputi tahap persiapan, inkubasi, iluminasi, dan vertifikasi.
3)      Definisi Produk
Definisi yang berfokus pada produk kreatif menenkankan unsur orisinalitas, kebaruan, dan kebermaknaan, seperti definisi dari
                        Rogers (1982) mengemukakan kreteria untuk produk kreatif adalah:
                        (1) Produk itu harus nyata (observable)
                        (2) Produk itu harus baru
                        (3) Produk itu adalah hasil dari kualitas unik unik individu dalam                            interaksi dengan lingkunganya.
4)      Definisi Pendorong
Kreativitas tidak hanya tergantung pada keterampilan dalam bidang dan dalam berfikir kreatif,tetapi juga pada motivasi intrinsik (pendorong internal) untuk bersibuk diri dalam bekerja,dan pada lingkungan sosial yang kondusif (pendorong eksternal).Masyarakat yang menentukan Apa dan Siapa yang dapat disibut kreatif.
E.     KONSEP KEBERBAKATAN DAN ANAK BERBAKAT
Dalam keperpustakaan ditemukan berbagai dari pendekatan ‘’unidimensional’’(seperti definisi dari Teman yang menggunakan intelegensi sebagai kriteria tunggal untuk mengidentifikasi anak berbakat,yaitu IQ 140 kependekataan ‘’multidimensional’’ yang memerlukan cara-cara dan alat-alat yang berbeda-beda pula untuk mengidentifikasinya.  
1                    Definisi U.S.O.E  tentang Keberbakatan
                        Anak berbakat adalah mereka yang oleh orang-orang profesional diidentifikasikan sebagai anak yang mampu mencapai prestasi yang tinggi            karena mempunyai kemampuan –kemampuan yang unggul. Anak-anak tersebut memerlukan program pendidikan yang berdiferensiasi dan atau pelayanan di luar jaungkauan program sekolah biasa agar dapat merealisasikan sumbngan mereka terhadap masyarakat maupun untuk pengembangan diri sendiri.
                        Kemampuan-kemampuan tersebut, baik secara potensial maupun yang telah nyata, meliputi:
·         Kemampuan intelektual umum (kecerdasan atau intelegensi)
·         Kemampuan akademik khusus
·         Kemampuan berpikir kreatif-produktif
·         Kemampuan memimpin
·         Kemampuan dalam salah satu bidang seni
·         Kemampuan psikomotor (seperti dalam olahraga)
2.         Konsepsi Renzulli tentang Keberbakatan
            Tiga ciri pokok yang merupakan kriteria (persyaratan) keberbakatan adalah keterkaitan antara:
·         Kemampuan umum di atas rata-rata
·         Kreativitas di atas rata-rata
·         Pengikatan diri terhadap tugas ( task commitment) yang cukup tiggi.
                        Suatu definisi memenuhi kriteria berikut:
·         Harus berdasarkan riset tentang karakteristik orang berbakat.
·         Memberi arah dalam seleksi dan / atau pengembangan instrumen dan prosedur identifikasi.
·         Memberi arah dan berkaitan dengan praktek program, seperti seleksi materi dan metode instruksi serta seleksi dan pelatihan guru anak berbakat.
1)      Kemampuan di Atas Rata-rata (Inteligensi)
Salah satu kesalahan dalam identikasi anak berbakat adalah anggapan bahwa hanya kecerdasan dan kecakapan sebagaimana diukur dengan tes intelegensi dan tes prestasi belajar menentukan kebersamaan dan prokdutivitas kreatif seseorang.
2)      Kreativitas
Tandan ciri kedua yang dimiliki anak/orang berbakat  adlah kreativitas,sebagai kemampuan umum untuk mencipta suatu yang baru,sebagai kemampuan untuk memberi gagasan –gagasan yang dapat  ditepkan dalam pemecahan masalah atau sebagai  kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan  baru antara  unsur-unsur  yang sudah ada sebelumnya.