Kamis, 16 Mei 2013

Intelligensi dan Bakat

Intelligensi dan Bakat

Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau keterampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes Inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.
Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes bakat atau aptitude test. Tes bakat yang dirancang untuk mengungkap prestasi belajar pada bidang tertentu dinamakan Scholastic Aptitude Test dan yang dipakai di bidang pekerjaan adalah Vocational Aptitude Test dan Interest Inventory. Contoh dari Scholastic aptitude Test adalah Tes Potensi Akademik (TPA) dan Graduate Record Examination (GRE). Sedangkan contoh dari Vocational Aptitude Test atau Interest Inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT) dan Kuder Occupational Interest Survey.
Bakat adalah suatu kemampuan alamiah yang dimiliki oleh seseorang yang memungkinkan ia melakukan sesuatu dengan baik. Bakat berbeda dengan kemampuan dan dengan kapasitas. Juga berbeda pula dengan prestasi. Kemampuan adalah daya untuk melakukan suatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan. Kemampuan menunjukkan bahwa suatu tindakan dapat dilaksanakan sekarang sedangkan bakat memerlukan latihan dan pendidikan agar suatu tindakan dapat dilakukan di masa yang akan datang. Kapasitas diartikan sebagai kemampuan yang dapat dikembangkan sepenuhnya di masa mendatang apabila kondisi latihan dikemukakan secara optimal.
Bakat dan kemampuan dapat menentukan prestasi seseorang, namun orang yang berbakat tidak selalu mempunyai prestasi yang tinggi. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi bakat yaitu faktor dari dalam diri orang tersebut seperti minatnya terhadap suatu bidang, keinginannya untuk berprestasi, dan keuletannya untuk mengatasi kesulitan atau rintangan yang mungkin timbul. Dan faktor dari lingkungan kesempatan, sarana dan prasarana yang tersedia, dukungan dan dorongan orang tua, taraf sosial ekonomi orang tua, tempat tinggal, dan sebagainya. Terkadang orang tidak menyadari akan bakat yang dimilikinya,untuk itu diperlukan bantuan orang lain dalam menemukam bakat yang dimilikinya. Dalam mengenali bakat seseorang kita harus mengetahui ciri-ciri dari bakat itu sendiri yaitu seseorang melakukan suatu hal dengan perasaan senang atau bahagia dan perasaaan itu akan muncul lagi apabila melakukan hal yang sama, dapat memahami suatu hal dengan cepat dan sering dilakukan dari hal-hal lain biasanya dilakukan oleh inisiatif sendiri, hal yang dilakukan cenderung mengarah pada pencapaian sebuah prestasi. Selain dengan mengenali bakat dengan ciri-ciri kita juga dapat mengenali bakat dengan menerapakan pendekatan yang dikembangkan dalam psikologi kognitif yakni pencatatan dan model pengenalan diri.
Intelegensi adalah kesanggupan mental untuk memahami, menganalisis secara kritis,cermat dan teliti serta menghasilkan ide-ide baru secara efektif dan efisien.Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi adalah :
Faktor bawaan atau keturunan
Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 - 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 - 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal.
Faktor lingkungan
Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.
Intelegensi lebih mengacu pada kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Intelegensi dan bakat merupakan satu kesatuan dalam mencapai suatu prestasi atau kesuksesan.

Pengertian Abnormal

Pengertian Abnormal
Ada beberapa kriteria yang digunakan untuk menentukan suatu perilaku abnormal, antara lain:
Berdasar Statistik
Perspektif ini melihat dari data statistik. Dimana semua variabel yang  dilihat didistribusikan ke dalam suatu kurva normal atau kurva dengan bentuk lonceng.
 
Kebanyakan (rata-rata) orang berada pada bagian tengah kurva, sebaliknya abnormalitas ditunjukkan pada distribusi di kedua ujung kurva (kurang/sangat baik).
Tidak Seharusnya 
Perilaku abnormal merupakan suatu bentuk respon yang tidak diharapkan terjadi. Contohnya seseorang tiba-tiba menjadi cemas (misalnya ditunjukkan dengan berkeringat dan gemetar) ketika berada di tengah-tengah suasana yang berbahagia.Respon yang ditunjukkan adalah tidak diharapkan dan tidak seharusnya terjadi.
Melanggar Norma
Perilaku abnormal ditentukan dengan mempertimbangkan konteks sosial dimana perilaku tersebut terjadi. Jika perilaku sesuai dengan norma masyarakat, berarti normal. Sebaliknya jika bertentangan dengan norma yang berlaku, berarti abnormal. Tetapi baru bisa disebut perilaku abnormal apabila perilaku tersebut melanggar norma sosial, atau mengancam, atau mengakibatkan kecemasan.

Mengganggu individu (distress)
Perilaku dianggap abnormal jika hal itu menimbulkan penderitaan atau distres dan gangguan bagi individu yang mengalami. Contoh, apabila seseorang memiliki keunikan tersendiri tidak seperti rata-rata orang, misal sangat suka mencuci tangan lebih dari oranglain, tetapi yang bersangkutan tidak terganggu, maka perilakunya masih bisa dikatakan normal.


Disabilitas
Disabilitas merupakan kekurangan pada beberapa penting dalam kehidupan. Individu mengalami ketidakmampuan (kesulitan) untuk mencapai tujuan karena abnormalitas yang dideritanya.Misal: disabilitas dalam hubungan perkawinan, disabilitas dalam hubungan sosial, disabilitas dalam pekerjaan, dsb.

Ciri Schizophrenia / Skizofrenia

Schizophrenia / Skizofrenia merupakan sebuah penyakit mental atau mental disorder yang ditandai dengan gangguan proses berpikir dan respon emosional yang buruk.
Namun untuk dapat mengatakan apakah seseorang menderita Schizophrenia / Skizofrenia. harus memenuhi beberapa kriteria berdasar Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV-TR).
Pertama
Munculnya gejala Schizophrenia / Skizofrenia. Dua atau lebih gejala dalam kurun waktu kurag lebih satu bulan.
Gejala tersebut :
- delusi
- halusinasi
- ucapan / pembicaraan yang kacau. (merupakan manifestasi dari gangguan pemikiran formal)
- perilaku yang sangat kacau. (berpakaian tidak tepat, sering menangis, melamun)
- gejala negatif : afeksi yang tumpul (kurang atau penurunan respon emosi), alogia (kurang atau penurunan berbicara), avolition (kurang atau penurunan motivasi)
If the delusions are judged to be bizarre, or hallucinations consist of hearing one voice participating in a running commentary of the patient's actions or of hearing two or more voices conversing with each other, only that symptom is required above. The speech disorganization criterion is only met if it is severe enough to substantially impair communication.
Kedua
Disfungsi sosial atau pekerjaan :
Sejak timbulnya gejala, satu atau lebih dari major area of function, seperti : pekerjaan, hubungan interpersonal, atau perawatan diri, terlihat nyata berada dibawah kondisi normal.
Ketiga
Durasi yang signifikan: tanda-tanda terus menerus, gangguan bertahan selama sedikitnya enam bulan. Periode enam bulan harus menyertakan setidaknya satu bulan gejala (atau kurang, jika gejala disetorkan dengan pengobatan).

Pengertian Intelegensi Menurut Ahli


PENGERTIAN INTELIGENSI
Menurut Alfred Binet (1857-1911) & Theodore Simon, inteligensi terdiri dari tiga komponen, yaitu kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau tindakan, kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan itu telah dilaksanakan, dan kemampuan untuk mengritik diri sendiri (autocriticism).
Lewis Madison Terman pada tahun 1916 mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan seseorang untuk berpikir secara abstrak.
H. H. Goddard pada tahun 1946 mendefinisikan inteligensi sebagai tingkat kemampuan pengalaman seseorang untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dan untuk mengantisipasi masalah-masalah yang akan datang.
V.A.C. Henmon mengatakan bahwa inteligensi terdiri atas dua faktor, yaitu kemampuan untuk memperoleh pengetahuan dan pengetahuan yang telah diperoleh.
Baldwin pada tahun 1901 mendefinisikan inteligensi sebagai daya atau kemampuan untuk memahami.
Edward Lee Thorndike (1874-1949) pada tahun 1913 mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan dalam memberikan respon yang baik dari pandangan kebenaran atau fakta.
George D. Stoddard pada tahun 1941 mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan untuk memahami masalah-masalah yang bercirikan mengandung kesukaran, kompleks, abstrak, ekonomis, diarahkan pada suatu tujuan, mempunyai nilai sosial, dan berasal dari sumbernya.
Walters dan Gardber pada tahun 1986 mendefinisikan inteligensi sebagai suatu kemampuan atau serangkaian kemampuan-kemampuan yang memungkinkan individu memecahkan masalah, atau produk sebagai konsekuensi eksistensi suatu budaya tertentu.
Flynn pada tahun 1987 mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan untuk berpikir secara abstrak dan kesiapan untuk belajar adari pengalaman.
David Wechsler, intelegensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa intelegensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, intelegensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.

Selasa, 14 Mei 2013

Membaca Kepribadian Menggunakan Tes MBTI


Membaca Kepribadian Menggunakan Tes MBTI (Myer Briggs Type Indicator)

Membaca kepribadian adalah ilmu yang sangat menarik. Sebab kita secara alami tertarik pada diri sendiri. Selain itu, kita juga tertarik dengan hubungan sosial dengan orang lain, minimal dengan pasangan kita. Mungkin kita pernah mendengar tipe-tipe kepribadian seperti kholeris, sanguinis, melankolis & phlegmatis. Tipologi kepribadian tersebut dikembangkan oleh filsuf Yunani kuno bernama Hipokrates yang kemudian dilanjutkan oleh Claudius Galen. Ilmu membaca kepribadian seseorang memang bukan hal baru dan sudah dikembangkan beratus-ratus tahun lamanya. Namun, sampai hari ini belum ada teori maupun alat (tes) yang bisa menjelaskan 100% akurat mengenai kepribadian dan perilaku seseorang. Sebab manusia itu unik. Hampir tidak ada manusia yang sama satu sama lain, walaupun mereka kembar identik.
Meskipun demikian setidaknya kita bisa menggunakan konsep hukum 20/80 dari Vilvredo Pareto. Kita bisa menggunakan alat ukur yang hanya mengukur 20% saja namun mampu mewakili sebagian besar (80%) aspek yang diukur. Dewasa ini, alat tes kepribadian mudah sekali kita jumpai dan sangat bervariasi. Mulai dari tes projektif seperti tes grafis (menggambar house, tree, person, & wartegg) serta tes Rorschach yang mengungkap alam bawah sadar manusia sampai dengan tes inventori/objektif yang mengandalkan kejujuran pengisinya.
Nah, di antara tes kepribadian inventori yang boleh dikatakan paling akurat, mudah digunakan dan banyak dipakai adalah MBTI (Myer Briggs Type Indicator). MBTI dikembangkan oleh Katharine Cook Briggs dan putrinya yang bernama Isabel Briggs Myers berdasarkan teori kepribadian dari Carl Gustav Jung.
A. Empat Skala Kecenderungan
MBTI bersandar pada empat dimensi utama yang saling berlawanan (dikotomis). Walaupun berlawanan sebetulnya kita memiliki semuanya, hanya saja kita lebih cenderung / nyaman pada salah satu arah tertentu. Seperti es krim dan coklat panas, mungkin kita mau dua-duanya tetapi cenderung lebih menyukai salah satunya. Masing-masing ada sisi positifnya tapi ada pula sisi negatifnya. Nah, seperti itu pula dalam skala kecenderungan MBTI. Berikut empat skala kecenderungan MBTI;
1. Extrovert (E) vs. Introvert (I). Dimensi EI melihat orientasi energi kita ke dalam atau ke luar. Ekstrovert artinya tipe pribadi yang suka dunia luar. Mereka suka bergaul, menyenangi interaksi sosial, beraktifitas dengan orang lain, serta berfokus pada dunia luar dan action oriented. Mereka bagus dalam hal berurusan dengan orang dan hal operasional. Sebaliknya, tipe introvert adalah mereka yang suka dunia dalam (diri sendiri). Mereka senang menyendiri, merenung, membaca, menulis dan tidak begitu suka bergaul dengan banyak orang.  Mereka mampu bekerja sendiri, penuh konsentrasi dan focus. Mereka bagus dalam pengolahan data secara internal dan pekerjaan back office.
2. Sensing (S) vs. Intuition (N). Dimensi SN melihat bagaimana individu memproses data. Sensing memproses data dengan cara bersandar pada fakta yang konkrit, praktis, realistis dan melihat data apa adanya. Mereka menggunakan pedoman pengalaman dan data konkrit serta memilih cara-cara yang sudah terbukti. Mereka fokus pada masa kini (apa yang bisa diperbaiki sekarang). Mereka bagus dalam perencanaan teknis dan detail aplikatif. Sementara tipe intuition memproses data dengan melihat pola dan hubungan, pemikir abstrak, konseptual serta melihat berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Mereka berpedoman imajinasi, memilih cara unik, dan berfokus pada masa depan (apa yang mungkin dicapai di masa mendatang). Mereka inovatif, penuh inspirasi dan ide unik. Mereka bagus dalam penyusunan konsep, ide, dan visi jangka panjang.
3. Thinking (T) vs. Feeling (F). Dimensi ketiga melihat bagaimana orang mengambil keputusan. Thinking adalah mereka yang selalu menggunakan logika dan kekuatan analisa untuk mengambil keputusan. Mereka cenderung berorientasi pada tugas dan objektif. Terkesan kaku dan keras kepala. Mereka menerapkan prinsip dengan konsisten. Bagus dalam melakukan analisa dan menjaga prosedur/standar. Sementara feeling adalah mereka yang melibatkan perasaan, empati serta nilai-nilai yang diyakini ketika hendak mengambil keputusan. Mereka berorientasi pada hubungan dan subjektif. Mereka akomodatif tapi sering terkesan memihak. Mereka empatik dan menginginkan harmoni. Bagus dalam menjaga keharmonisan dan memelihara hubungan.
4. Judging (J) vs. Perceiving (P).Dimensi terakhir melihat derajat fleksibilitas seseorang. Judging di sini bukan berarti judgemental (menghakimi). Judging diartikan sebagai tipe orang yang selalu bertumpu pada rencana yang sistematis, serta senantiasa berpikir dan bertindak teratur (tidak melompat-lompat). Mereka tidak suka hal-hal mendadak dan di luar perencanaan. Mereka ingin merencanakan pekerjaan dan mengikuti rencana itu.  Mereka bagus dalam penjadwalan, penetapan struktur, dan perencanaan step by step. Sementara tipe perceiving adalah mereka yang bersikap fleksibel, spontan, adaptif, dan bertindak secara acak untuk melihat beragam peluang yang muncul. Perubahan mendadak tidak masalah dan ketidakpastian membuat mereka bergairah. Bagus dalam menghadapi perubahan dan situasi mendadak.

B. Tes Kepribadian MBTI Online
Jika ingin mencoba mengukur kepribadian Anda dengan Tes MBTI berbahasa Indonesia bisa download gratis alat test dan scoring MBTI di sini. Anda juga bisa mendapatkan / download e-book gratis tentang MBTI berikut 16 Tipe Kepribadian di sini. Anda pun bisa melakukan Tes MBTI Online di: http://www.mypersonality.info/ (Berbahasa Inggris dan semoga linknya masih ada dan masih gratis. ^ ^) Kalau tidak ketemu, bisa juga minta bantuan Om Google.
Dalam tes MBTI, kita akan disodori sejumlah pertanyaan yang pada intinya akan mengarahkan kita pada sisi mana kita berada untuk keempat dimensi di atas. Untuk dimensi Extrovert (E) vs. Introvert (I) misalnya, apakah kita cenderung berada pada sisi E atau I. Demikian juga untuk dimensi lainnya. Karena terdapat empat dimensi, maka kemungkinan kombinasinya menjadi 16 tipe : (ENTJ, ISTJ, ENFP, dst). Saya sendiri adalah tipe INTJ. Masing-masing memberikan deskripsi yang unik untuk pola kepribadiannya. Deskripsi 16 tipe Kepribadian MBTI bisa dibaca di sini.
C. Manfaat MBTI
1. Bimbingan Konseling.
MBTI sangat berguna di dunia pendidikan dan pengembangan karier. MBTI bisa digunakan sebagai panduan untuk memilih jurusan kuliah sampai dengan profesi yang cocok dengan kepribadian.
2. Pengembangan Diri.
Dengan MBTI kita bisa memahami kelebihan (Strength) diri kita sekaligus kelemahan (Weakness) yang ada pada diri sendiri. Kita bisa lebih fokus mengembangkan kelebihan kita sekaligus mencari cara memperbaiki sisi negatif kita.
3. Memahami Orang Lain dengan lebih baik.
MBTI membantu memperbaiki hubungan dan cara pandang kita terhadap orang lain. Kita bisa lebih memahami dan menerima perbedaan. Tidak semua orang berfikir, bersikap dan berperilaku seperti cara kita berperilaku. Jadi terimalah perbedaan yang ada.
D. Hal-hal yang Perlu Dihindari dari MBTI
1. Menjadi Alasan
“Saya tidak mau berhubungan dengan banyak pelanggan dan mengurusi banyak klien sebab saya orang introvert.” Contoh di atas sebaiknya Anda hindari karena sama saja Anda membatasi diri Anda sendiri. Kalau anda ingin meraih sesuatu yang besar atau kesuksesan apapun sebaiknya Anda berani keluar dari zona nyaman kepribadian Anda.
2. Labelling
“Dasar orang ekstrovert, sampai kapanpun kamu nggak tahu malu dan ngobrol ke sana ke mari dengan suara keras tentang aibmu sendiri” Jangan menghakimi orang (terutama kelemahannya) dan membuat batasan bahwa mereka tidak bisa berubah. Berubah memang sulit tetapi bukan hal yang imposible.
E. Topeng Kepribadian
“Saya bingung. Mengapa di kantor saya cenderung A tetapi di rumah saya berubah menjadi B. Apa yang terjadi pada saya dan sebetulnya kecenderungan saya A atau B?”
Kepribadian kita punya dua lapisan : Asli dan Topeng. Tuntutan lingkungan atau pekerjaan sering membuat kita kemudian menggunakan topeng kepribadian.
“Apakah kepribadian asli kita bisa berubah menjadi kepribadian topeng kita?”
Mungkin saja, apalagi jika kepribadian topeng digunakan secara terus menerus dengan intensitas yang lebih banyak kemudian kita mulai lebih enjoy (menikmati/nyaman) dengan kepribadian topeng kita.
Kemungkinan lain adalah kita hanya menggunakan kepribadian topeng pada saat-saat tertentu dan kembali lagi pada kepribadian asli saat lingkungan nyaman dan tidak menuntut kita menggunakan kepribadian topeng.
Kemungkinan terakhir, kita akan tertekan dan tidak nyaman dengan kepribadian topeng yang dipaksakan. Jika kita punya kecenderungan seperti ini, sebaiknya kita tidak memilih pekerjaan yang tidak cocok dengan kepribadian kita. Mengapa? Sebab kita akan mempersulit diri sendiri, menghambat produktifitas serta membuat stress dan ketidakpuasan kerja.
“Apakah dengan kepribadian topeng berarti kita membohongi diri sendiri dengan tidak menjadi diri sendiri?”
Kepribadian topeng tidak selalu lebih baik atau lebih buruk dari kepribadian asli kita. Semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Menggunakan topeng bukan berarti membohongi diri sendiri selama digunakan untuk tujuan positif. Sebab, membohongi diri itu adalah ketika kita tidak menerima diri kita apa adanya (menolak takdir). Namun ketika kita menggunakan topeng untuk lebih mudah beradaptasi atau lebih efektif dalam penyelesaian tugas tanpa harus menolak siapa diri kita yang sebenarnya maka itu tidak masalah. Perlu dibaca keras-keras: Orang yang sehat secara mental adalah orang yang mampu menerima dirinya apa adanya serta takdir apapun yang menimpa dirinya.

Jumat, 12 April 2013

Pengertian Anak Pra Sekolah Beserta Teori nya


Pengertian Pendidikan Anak Pra Sekolah Beserta Teori nya

Oleh             : Muhammad Ikhwan Nasution
Nim              : 121301021
Fakultas      : Psikologi Universitas Sumatera Utara


    Pengertian pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya dalam mempersiapkan anak usia prasekolah untuk melanjutkan kepada tingkat pendidikan selanjutnya, sehingga dirasakan sangat penting dalam upaya menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Perkembangan Pendidikan Anak Usia Dini tidak hanya terjadi di negara-negara maju saja, namun di negara yang sedang berkembang. Berbagai macam Pendidikan Anak Usia Dini ditemukan dalam kehidupan kita, baik yang diselenggarakan oleh pihak pemerintah, maupun oleh pihak swasta, baik yang langsung menjangkau peserta didik atau melalui pemberian pengetahuan kepada para ibu atau sekaligus yang menjangkau anak dan ibu. Hal tersebut membuktikan betapa pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini.
Menurut Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (2000) Pendidikan Anak Usia Dini adalah pendidikan yang berfungsi membantu pertumbuhan jasmani dan rohani peserta didik yang dilakukan di dalam maupun di luar lingkungan keluarganya. 
Selanjutnya menurut UUSPN No. 20 Tahun 2003, Tentang Pendidikan Anak Usia Dini adalah Suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan anak untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. 
Hal-hal yang terkait dengan Pendidikan Anak Usia Dini, dengan mengacu pada Pasal 28 UUSPN No. 20 Tahun 2003, yaitu:
  1. Pendidikan Anak Usia Dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar dan bukan merupakan prasyarat untuk mengikuti pendidikan dasar. 
  2. Pendidikan Anak Usia Dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal dan/atau informal. 
  3. Pendidikan Anak Usia Dini pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), raudhatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat. TK diselenggarakan untuk mengembangkan kepribadian dan potensi anak sesuai dengan tahap perkembangannya., sedangkan RA diselenggarakan untuk pengembangan potensi anak dengan lebih banyak menanamkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan. 
  4. Pendidikan Anak Usia Dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA) atau bentuk lain yang sederajat. 
  5. Pendidikan Anak Usia Dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan keluarga. 
Pendidikan Anak Usia Dini dalam pedoman sosialisasi PAUD (2002) adalah Pendidikan yang ditujukan bagi Anak usia dini (0 – 6 tahun) yang diselenggarakan pada jalur pendidikan nonformal dalam bentuk penitipan anak, kelompok bermain dan satuan pendidikan yang sejenis guna mempersiapkan anak agar dapat tumbuh dan berkembanag secara optimal serta kelak siap memasuki pendidikan dasar.
kedudukan usia prasekolah bagi perkembangan anak selanjutnya. Sejak lama banyak ahli yang memandang usia prasekolah atau balita sebagai fase yang sangat fundamental bagi perkembangan individu. Dalam memandang usia balita sebagai masa terbentuknya kepribadian dasar individu. Kepribadian orang dewasa, menurutnya ditentukan oleh cara-cara pemecahan konflik antara sumber- sumber kesenangan awal dengan tuntutan realita pada masa anak. Santrock dan Yussen juga menganggap bahwa usia prasekolah sebagai masa yang penuh dengan kejadian-kejadian penting dan unik (a highly eventful an uniqe period of life) yang meletakan dasar bagi kehidupan seseorang di masa dewasa. Begitu pula Fernie (1998) meyakini bahwa pengalaman-pengalaman belajar awal tidak akan pernah bisa diganti oleh pengalaman-pengalaman berikutnya, kecuali dimodifikasi. Mendukung pandangan para ahli tersebut, temuan Sperry, Hubbel dan Wiesel (Solehudin, 1997) menjelaskan bahwa perkembangan potensi untuk masing-masing aspek memiliki keterbatasan waktu yang sebagian besar diantaranya  terjadi pada masa usia dini. Batas kesempatan untuk perkembangan matematika adalah sampai empat tahun, untuk bahasa sampai sepuluh tahun, dan untuk musik antar 3 – 10 tahun.
Lebih lanjut, penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa konstruksi jaringan otak ternyata hanya akan hidup bila diprogram melalui berbagai rangsangan. Tanpa dirangsang atau digunakan, otak manusia tidak akan berkembang karena pertumbuhan otak memiliki keterbatasan waktu, maka rangsangan otak di usia dini menjadi sangat penting. Penundaan yang terjadi akan membuat otak itu tetap tertutup sehingga tidak menerima program-program baru.
           Menurut teori Erik Erikson (dalam Patmonodewo, 2003) yang membicarakan perkembangan kepribadian seseorang dengan titik berat pada perkembangan psikososial tahapan nol sampai satu tahun, berada pada tahapan orang sensorik dengan krisis emosi antara trust versus mistrust,  tahapan tiga sampai enam tahun anak berada dalam tahapan dengan krisis autonomy versus shame and doubt (dua sampai tiga  tahun), initiative versus guilt (empat sampai lima tahun) dan tahap usia  enam sampai sebelas tahun mengalami krisis industry versus inferiority. 
Menurut teori Piaget (dalam Patmonodewo, 2003) yang membicarakan perkembangan kognitif, perkembangan dari tahapan sensorimotor (nol sampai dua tahun), pra operasional (dua sampai tujuh tahun), operasional konkret (tujuh sampai dua belas tahun), dan operasional formal (dua belas sampai lima belas tahun), maka perkembangan kognitif anak masa pra sekolah berada pada tahap pra operasional.
Disimpulkan bahwa anak pra sekolah adalah mereka yang berusia antara tiga sampai enam tahun. Mereka biasanya mengikuti program pra sekolah dan kindergarten. Umumnya di Indonesia anak pra sekolah mengikuti program Tempat Penitipan Anak (TPA), Kelompok Bermain (KB), dan program Taman Kanak-Kanak (TK).


Selasa, 02 April 2013

Pendekatan Tipologi (CATTEL)

RAYMOND B CATTEL
oleh : Muhammad Ikhwan Nasution

Raymond B Cattel merupakan seorang psikolog asal Inggris. Dia mengungkapkan bahwa personality is that which permits a prediction of  what a person will do in a given situation, maksudnya Cattel berpendapat bahwa kepribadian yang ada pada individu dapat memprediksi sikap yang akan diambil oleh individu tersebut pada situasi yang ada (tertentu). Cattel mengungkapkan bahwa kepribadian seseorang terdiri dari bermacam-macam trait. Kepribadian juga merupakan suatu bentuk dari struktur trait yang kompleks. Trait sendiri merupakan sifat atau kecenderungan dari individu untuk berperilaku.
            Cattel terkenal dengan teori analisis faktornya terhadap kepribadian, dia membagi kepribadian melalui beberapa macam trait, adapun pembagian trait menurut Cattel yaitu Common Traits, Unique Traits, Ability Trait, Temperament Trait, Dynamic Traits, Surface Traits, Source Traits, Constitutional Traits, dan Environmental-Mold Traits. Dari trait tersebut dibagi menjadi empat kategori lagi
1.    Common Traits dan Unique Traits
            Common Traits merupakan suatu sifat yang dimiliki oleh setiap individu, namun memiliki tingkat yang berbeda antar individu. Contohnya intelegensi, setiap orang pasti memilikinya, namun intelegensi antar individu berbeda.
Unique Traits merupakan suatu sifat atau karakter diri dari individu yang lekat pada dirinya, dan ini menjadikan individu tersebut berbeda antar individu satu dengan yang lainnya. Contohnya ada individu yang menyukai permainan sepakbola namun juga ada yang tidak menyukainya.
Kedua trait ini merupakan kategori trait kepemilikan, maksudnya bahwa setiap orang pasti memiliki kedua trait ini, dan disetiap individu kepemilikan kedua trait ini tidaklah sama tingkatannya.
2.    Ability, Temperament, dan Dynamic Traits
Trait ini merupakan trait modalitas ekspresi, trait ini berisikan tentang kemampuan individu, emosi, serta motivasi individu dalam berperilaku.
Ability trait menggambarkan bagaimana kemampuan individu dalam memecahkan suatu persoalan dan juga keefektifan cara yang dilakukannya.
Temprament trait menggambarkan bagaimana irama emosional yang ada pada individu dalam menghadapi situasi tertentu/ situasi yang ada
Dynamic trait merupakan suatu sikap yang mendorong individu berperilaku atau bisa disebut sebagai motivasi individu dalam berperilaku. Ambisius salah satu contohnya.
3.    Surface Traits dan Source Traits
Surface trait merupakan sifat / karakter individu yang tampak, sedangkan source trait merupakan faktor yang mendukung surface trait tersebut atau bisa disebut juga faktor yang menjadi alasan bagaimana surface trait tersebut muncul. Source trait merupakan sumber yang menghasilkan sifat yang tampak.
4.    Constitutional Traits and Environmental-Mold Traits
Constitutional trait merupakan sifat yang berasal dari kondisi biologis individu, namun dalam hal ini tidak selalu faktor bawaan (keturunan). Contohnya jika individu meminum alkohol, maka dia akan bertingkah ceroboh (Schultz, 2009)
Environmental-Mold trait merupakan hasil yang didapat dari pengaruh lingkungan sekitar individu berada. Misalkan pada orang militer memiliki perilaku yang berbeda dengan orang sipil biasa, orang militer (karir) cenderung bersikap keras.
            16 PF (Personality Factor)
            Cattel meneliti tentang sifat-sifat manusia, dari penelitiannya dia menemukan tes kepribadian manusia yang disebutnya dengan 16PF. Dari beribu-ribu bahkan jutaan sifat manusia, dia mengerucutkan sifat-sifat yang ada menjadi 16, dari 16 faktor tersebut manurut Cattel merupakan faktor primer.
1)      Faktor A (warmth – affectia)
2)      Faktor B (reasoning – intelligence)
3)      Faktor C (emosional stability – ego strength)
4)      Faktor E (dominance – submissiveness)
5)      Faktor F (liveliness – Surgency)
6)      Faktor G (consciousness)
7)      Faktor H (Social Boldness)
8)      Faktor I (Sensitivity)
9)      Faktor L (Vigilance)
10)  Faktor M (Abstractedness)
11)  Faktor N (Privateness)
12)  Faktor O (Apprehension)
13)  Faktor Q1 (Opened – Radicalism )
14)  Faktor Q2 (Reliance – sufficiency )
15)  Faktor Q3 (Perfectionism)
16)  Faktor Q4 (Tension)
Cattell menjelaskan dinamika trait muncul sebagai salah satu klasifikasi trait. Dalam sistem Cattell ada 3 macam sifat-sifat dinamik yang penting yaitu erg, sikap, dan sentimen.
Erg merupakan motivasi dasar yang dimiliki oleh individu sejak dia dilahirkan (faktor bawaan) dalam mencapai tujuannya. Erg ini menurut Cattel berupa dorongan primer seperti lapar, haus, seks, dll. Cattel dalam penelitiannya membagi menjadi 11 macam erg yaitu marah, daya tarik, rasa ingin tahu, rasa kesal/ jijik, gregariousness, rasa lapar, perlindungan, keamanan, self-assertion, self-submission, seks.
Sikap merupakan suatu tingkah laku yang muncul atas respon yang ada pada suatu keadaan tertentu. Cattel mendefinisikan sikap ini secara luas, tidak hanya berupa tingkah laku yang tampak, misalnya seperti suasana hati.
Sentimen merupakan suatu sifat yang terbentuk karena faktor lingkungan, hal ini termasuk dalam environmental-mold trait karena pengaruh lingkungan sangat berperan besar dalam membentuk sentimen ini.
Ketiga hal ini sangat berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Ada yang berasal dari faktor bawaan namun ada juga yang berasal dari pengaruh lingkungan. Antara erg dengan sentimen ini yang akhirnya dapat memunculkan sikap dari individu dalam berperilaku melalui proses belajar.
Perkembangan kepribadian
Cattel juga membagi tahap perkembangan kepribadian berdasarkan perkembangan masa hidup
TAHAP INFANCY, 0-6 tahun
Periode pembentukan ini merupakan yang terpenting dalam perkembangan kepribadian. Pada tahap ini individu sangat dipengaruhi oleh orang tua dan saudara-saudaranya. Pengalaman ini berupa cara makan serta cara individu tersebut dalam membuang kotoran (toilet training). Pengaruh lingkungan keluarga tersebut juga membantu dalam membentuk sikap sosial, kekuatan superego, perasaan aman dan tidak aman, sikap terhadap otoritas, dan kemungkinan kecenderungan neurotic.
TAHAP CHILHOOD, 6-14 tahun
Dalam tahap ini, Ada awal kecenderungan untuk menuju kemandirian dari orang tua dan meningkatnya identifikasi dengan teman sebayanya, tetapi pengaruhnya tidak besar jika dibandingkan dengan periode sebelum dan sesudahnya.
TAHAP ADOLESCENCE, 14-23 tahun
Ini adalah periode yang paling menyulitkan dan menekan terhadap keadaan individu. Konflik yang dialami pada umumnya seputar kemandirian, jati diri, dan seks.
TAHAP MATURITY, 23-50 tahun
Tahap ini ditandai dengan kesibukan, serta produktivitas individu. Secara umum orang pada tahap ini mulai mempersiapkan karir, perkawinan, dan juga keluarga. Kepribadian individu cenderung tidak mudah berubah, lebih stabil jika dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Cattell juga menemukan hanya sedikit perubahan minat dan sikap pada tahap ini.
TAHAP LATE MATURITY, 50-65 tahun
Pada tahap ini ada sedikit perkembangan kepribadian yang terjadi sebagai respon terhadap perubahan fisik, sosial, dan psikologis. Kesehatan dan kekuatan semakin menurun pada tahap ini, begitu pula dengan daya tarik pribadi. Individu juga menilai kembali jati dirinya selama ini dan mencoba memperbaikinya untuk menjadi pribadi baru.
TAHAP ODL AGE, 65+
Tahap final, individu mulai menyesuaikan diri akan kehilangan orang terdekat, biasanya berupa tingkat ke-religiusitas meningkat. Tahap ini individu mulai merasa cemas akan kehidupannya. Perasaan kesepian, tidak aman mulai ada kembali dalam diri individu.
Assessment dalam teori analisis faktor Cattel
Dalam skala pengukuran kepribadian secara objektif menurut Cattel, Cattel menggunakan tiga teknik assessment utama yang disebutnya L-data (life records), Q-data (questionaires), dan T-data (tests).
L-data merupakan teknik dimana peneliti meliput kehidupan subjek secara langsung di kehidupan sehari-hari. Dalam L-data ini perilaku yang dilihat adalah perilaku subjek yang tampak dan dapat dilihat pada observasi.
Q-data ini merupakan teknik penelitian dari Cattel dengan menggunakan kuesioner dalam penelitiannya yang digunakan untuk melihat serta menilai sifat, karekter subjek yang tidak tampak.
T-data merupakan tes yang digunakan Cattel agar penelitiannya tidak bersifat subjektif. Dalam T-data ini Cattel berusaha se-objektif mungkin dalam memperoleh data, Cattel menggunakan tes seperti rorschach, TAT (Thematic Apperception Test).
KESIMPULAN
Pendeskripsian Cattel mengenai kepribadian disini sangatlah kompleks, dan dia berusaha membuat deskripsi tersebut se-objektif mungkin. Penelitiannya melibatkan banyak orang yang membuktikan bahwa dirinya memang berusaha untuk mengetahui dan juga untuk mendeskripsikan kepribadian tersebut. Cattel melihat kepribadian melalui banyak faktor yang kemudian dikerucutkan menjadi lebih sedikit sehingga menjadi tes 16-PF tersebut. Disinilah letak keunikan teori Cattel yang berusaha untuk mendeskripsikan kepribadian secara detail dan objektif.
Teori Cattel ini memang sangat rumit dan sukar untuk dipahami, namun dengan banyaknya data yang didapatkannya mengenai kepribadian, menjadikan teorinya semakin valid, meskipun Cattel sendiri mengatakan bahwa tes kepribadian yang didapatkannya bukanlah hasil yang valid, melainkan hanya berupa usaha untuk mendeskripsikan tentang kepribadian.
Teori Cattel juga meliputi banyak teori yang ada didalamnya, Cattel menggunakan teori-teori pendahulunya sebagai rujukan serta untuk mendukung teorinya tersebut. Berbeda dengan para pencetus teori kepribadian lainnya, Cattel disini hanya berusaha untuk mengetahui kepribadian dari individu. Freud misalkan, dia mendeskripsikan pengalamannya sendiri dan juga pengalaman dari praktek sebagai seorang psikolog sebagai acuan teorinya. Data-data Cattel tentang teori kepribadiannya merupakan hasil usahanya terhadap banyak orang hanya untuk mengetahui kepribadian seseorang secara umum. Dalam membentuk teorinya Cattel juga menggunakan berbagai macam tes, lalu juga pembagian faktor-faktor yang membentuk kepribadian menjadi bermacam-macam trait. Cattel juga mengatakan bahwa kepribadian yang ada pada individu tersebut bukanlah karena faktor bawaan saja ataupun faktor lingkungan saja, melainkan antara faktor bawaan dengan faktor lingkungan saling berhubungan dalam membentuk kepribadian individu.